Kamis, 28 Februari 2008

puisi-puisiku

garis waktu mengayuh patah


rangkaian garis waktu ini makin susut
jalinan tahun dan bulan pun mengusut
demam demikian remuk
mengeja nama hari
berkali kali
aku tak pahami babak-babak ini, kekasih
aksara nasib kian kusut
aku pemain baru yang buta
mencuri tongkat
dari salah satu tulang di rusukmu
tetap saja mengayuh payah
rasa mau kupatahkan saja

desember 2007









kutanam hati di pemakaman


di pemakaman, kutanam hati dalam-dalam
bersama rindu yang kini dipendam
di bawah tanah galian
di parit batu
bilangan kehilangan menelisik helai-helai rambut
diguyur hujan sedemikian

selusin rusuh negri yang ngeri kucatat pada hujan
berjatuhan di sudut mendung
tak kan ada gaduh itu lagi
malam-malam beku
kopi hambar
roti tawar
lagu sumbang
rupa-rupa kehilangan senyum

keranda dibawa pulang
peziarah telah pula menyisakan jejak
gelombang yasin perlahan menepi
menyerah pada nisan yang selamanya diam

2007






dikejar denyut hujan


aku kerap bertandang ke rumah daun
menjenguk dua mata mungil
yang selalu sembab-basah
mengapa musim ini begitu boros dengan hujan
mengurungku semaunya
aku dikejar denyut
hujan

2008



















menunggu kering

kutuai segala kesah musim
bersijingkat di balik batang yang retak
aku guyur kau dengan embun subuh nan buta
sebelum daun-daun itu jatuh, ditinggalkan basah
memburu peluh januari
panasnya bersangatan
menyengat kita:
daun-daun yang menunggu kering

2008













kicau risau di ranting pinus

sebait lagi,
kutulis syair hening
di retina mata murai
berdendang
melalui isyarat yang kukulum
serata tubuh

mata itu berpindai bunga kembang seribu
dituba bias-bias kenang
rusuh
mengebat sulur-sulur kisah
di antara gagang markisah
yang merindangi tepian danau

berujar di ranting pinus
meningkahi hujan luruh
burung pengicau risau
saban pagi:
“alahan memanjang
tanahku,
menggelinjang tertahan di kulit
rengkah digulung dingin
maka, kutidurkan kau di dadaku”

2008





terbekap gagu

saban hari adalah debaran sajak
denyut rahasia
perih yang kujalin
sesobek lagi jadi senyum
sebelum lengkap disayat pisau
kata-kata yang tumpul

rikuh di hadap jaring-jaring derai nadir kebisuan
mengundangmu ke rona apel pipiku
membinar di bening putih mataku
aku jadi separuh ayan
bila rintih telah membekap kenang
pada jalan menuju pintu rumah
bingkai-bingkai lukisan hanya patung
menyaksikan persandingan letih

aku dan segala gagu
hanya bisa diam menjadi penyaksi
bias-bias khusyuk
di separo perjalanan menuju jiwa
yang sujud dimabuk asmara
pada malam yang acuh

maka, seperti ada yang tersembunyi
mesti disingkap
di balik bibir malam
tak tahu apa
seperti ada batu yang nyangkut
di salah satu aliran darah
kumuntahkan di atas tikar penampungan
duka

suatu pagi, tubuhku kejang-kejang
puisiku batal di sebuah kamar

sudahlah jangan dibahas lagi,
ia kan membawa kita ke ruang lain
dalam tubuh yang lain pula
tidak seperti rimba
hanya menelan mangsa di situ-situ juga,

kini ia ada di urat merih

2008


















yang tersadai pada dermaga

pesan nenek:
sadaikan ia pada dermaga yang diingini

menunggu nasi masak
di tungku perasaian
tak tertahan dahaga
kita pagut semasih purba

berkali waktu,
pernah kita datangi lengkungan redup yang amis
bila-bila saja
teringat bunga rumput di rusuk batang air
kau rangkai
menjadi sekuntum lagu
sembari mengail tatapan
yang bergelinjangan di mata pancing

desau angin tua menyergap bilur-bilur nyiur
merontokkan puisi yang tertunda kukayuh

2008







sebuah adu tentang rumah penuh debu

segala gamang telan saja, tahun ini menyuguh begitu banyak kejut
orang-orang digerogoti virus yang sama
cinta, penyakit yang aneh
menjelma demikian buruk
apakah karena kita lupa
sesuatu yang bisa membutakan begitu saja?
ketergelinciran
akan dicatat dalam kotak hitam
tempat segala surga dan tragedi berlaku

tak jarang lompatan dilakukan penghuninya
juga justru membuat orang makin resah
kita tinggal di sini dipojokkan
juga akan diasingkan dari dunia
apa yang kita tuju?
para penghuni ini rumah ini
belum bisa menjawab
tidak bisa menganggap rumah jatuh cinta
di akhir tahun aku melompat ke halaman
ini bukan lagi rumah, tapi sarang para hantu
aku melangkah diam-diam dari kaca depan
sebab segalanya telah lusuh
atap bocor, dinding rengkah

rumah yang kupikir akan menjanjikan kedamaian
dari letih perjalanan, menyimpan bermacam kejam-bengis
segala pahit kuminum sendirian
aku tak bisa berdamai dengan senyum
kesah dari sebuah keterasingan
dengan segala rutuk dan kutuk

tentang rumah yang tak terurus
cerita-cerita indah yang didengungkan
ketika aku masih berada di pintu
sebuah keluarga
tanpa serahim-setubuh
bisakah?
seperti dongeng-dongeng saja
huruf-huruf genit yang setiap detik rindu ditulis
dalam bab-bab menyeramkan

2008




















kepada sampan

aku mengasihi layar merah yang kau rentang di dadaku
deburan puisi yang batal

dermaga terasing
lapuk menunggu
sampai berlunau

selalu kau pesankan:
katakan pada kapal-kapal yang datang
aku menunggu sampan
yang kutandai dari riuh pelayaran

tadah yang sama
menunggu angin dan buih berkabar
perihal sampan yang sebentar lagi merapat ke dadaku

sekali saja
setelahnya, tak ada sadai lain


2008












igau perempuan siak


selamanyakah aku di balik kaca
perempuan payau membaca kepulangan
di tikungan penat
di gerigi jembatan
berpendar mengejar bayangan sajak
anak-anak

selamanyakah aku mendandani sunyi
serupa pengasingan ibu-ibu muda
di lapak-lapak sore
sayup angin berdesir pada dada lapuk
kisahkan senyum yang pernah berniat jadi hujan

“lakimu baru saja pulang berkuli
dari seberang malaka !”

berkemaslah aku dengan sejumput setia
menghisap aroma daun pandan
dari tubuh terpiuh peluh
isi rahim dengan janin lugu
sebentar lagi orang-orang melihatnya berkecimpung
ke badan siak
ke buih yang telah lama mengalirkan bangkai

seperti kapal-kapal bubar
ketika kaca retak
tak ada siapa-siapa di sana


september, 2007












malam mengusau carut di kota

malam mengusau, sedu-sedan para bunga dijajakan
kupu-kupu genit mengayuh langit untukmu
telanjang di kota kembang

carut marut percumbuan kelam
kerling nakal lelampu
sepanjang dekapan
bertebaranlah segala benih

kakimu masih tulang, dik
pada mata sembabmu aku titip riak
untuk waktu batu
tersebab engkau telah menjadi detak
di jantung-jantung kota

februari, 2007



























rinai yang berdiam dalam angka-angka


dalam darah yang buncah
pada angin kemarin
pesawat-pesawat turun
memagut tanah
dan para kapal menyelam
di laut pelarian

perjalanan angka-angka
habis
di makan rinai
sepagi ini

desember 2006





























karam di tepi


aku bukan pelaut
yang seketika terkesiap
melihat ciri badai
namun kugasak juga perahu ini
ke laut lepas yang setiap hari kau suguhkan

“melayari matamu
gelombangnya mengajakku karam
padahal masih di tepi,”

2007































aku di laut lain


aku hanya riak dari laut yang lain
sesekali meramaikan ombak
lalu
susup

agustus 2007




































berbagi ladang



bisakah kita resapi luka waktu
bisu
ngilu

masuklah ke balik wajah samar
mengintip di jendela pondok
kebunnya ditindih kaki kota
sembunyi perih diam-diam
beku
sepi

benih kita
tak mungkin tumbuh
di sepetak tanah
miliknya

desember, 2006
























aku masih serupa entah


serupa petani
aku masih menggarap sepetak ragu

serupa kumbang
mengharap sekotak madu
dalam seri musim semi
tanpa duri lagi
mengundang senyuman

serupa hati,
aku inginkan damai
terpanah
tenang


2007


























perjalanan yang juga entah



I
pagi-pagi benar aku singgahi tepian
sekedar melepas penat malam
menjalari pagi berikutnya
jarum jam lepas detik payau
terbalik

II
sungguh,
perputaran ini
sedikit cuka, gula, dan garam
paduan ragi
semerbak bau risau digulai

III
dekat kabut hanya igau sebuah mimpi
tenggelam dalam zaman tak bertuan
coba meraba negeri entah
rengkuh peluk jengah
merapat ke dalam jarum jam
menyimpan detik patah-patah
sebegitu banyakkah jalan ke roma
di palung zaman ini?


2007















perihal telur


pada siapa kukatakan resah
aku merisau di musim kawin
mengerami lalu menetaskannya

“kandang tak kujung riuh”


juli, 2007


































negeri dingin dekat dermaga (1)


lagi, aku terbenam pada mata air
pada akar-akar teh, batang tomat
daun lobak dan pucuk-pucuk markisah
remah-remah tanah mencabuli bulir-bulir peluh petani

setiap kali mengampaikan tubuh
bila mentari ajak bergelut
lalu, makan siang di tepi ladang
sembari menikmati lagu-lagu
yang berjuntaian di mata pacul
beberapa purnama lagi
mereka kan mengaraknya ke balai-balai

dingin
bukan salju
gelitik pori keriput dermaga
segala surga menyergap

sesekali aku terkepung rindu


februari 2007




















negeri dingin dekat dermaga (2)


maka jadikanlah aku dermaga
di mana nelayan melempar sauh bila letih
bukan tempat rama dan sinta memadu kata
meski bukan di laut yang kau ceritakan
di tepian danau kecil,
arusnya mengalir ke laut jua


desember, 2007

































negeri dingin dekat dermaga (3)


di tepi danau yang sama
aku masih dermaga lisut dililit dingin
membaca ayat-ayat subuh
di rundung rindu berlumut
pada riuhnya kapal-kapal
bepusingan

ini hanya puisi
bagi sampan
yang bersiap mengayuh dingin subuh


desember, 2007





























gigil bibir dan secangkir kopi


tampunglah rentak hujan dari mataku
pagi ini lagi tumpah ke dalam secangkir kopi
minumlah,
barangkali bisa mendiamkan gigil bibirmu
bukan merapal yasin atau ayat-ayat sore
sebab aku ditakuti-takuti malam
teringat kedua tanganku tak lagi perawan
kala kau gasak jemarimu ke relungnya

kehilangan ini ngilu, tuan


desember, 2007





























bulan demam dengan selimutnya


kehilangan ini ngilu
barangkali rela
tapi bila sebagai selimut dingin

di luar bulan mabuk mengintip
sebagai aku
tersudut
mengintip keriangan
dalam petikan gitar

demam panjang agustus kemarin
meninggalkan cibir


2007



























amin yang belum terjawab


aku menunggu tuhan menjawab
segala amin
di kesepian
dalam sujud yang kucicil
bermalam
di bawah batu

kusimpul tali nabi
kurajut keranjang kerinduan
lalu aku pun menjadi penjaja doa
yang mabuk
ketika bulan duduk
di pucuk-pucuk dedap

desember, 2007



























rumah sunyi di bawah gerimis


pada kata-kata yang muntah
tentang para laki rindu pulang
irama bunda merayunya
dalam kenang tak sudah-sudah
ku tatap segerombolan letih
menjadi hantu langkah
terkoyak
meruncing
ke sisa doa

rumah sunyi masih gerimis, sayang
di halau jejak petandang
ke serambi

sebagai badan yang juga kekeringan
kita gali segala mata air
lepaskan tangis terbengkalai

sembari menunggu
kepulangan lanang yang lain
pikirku, kita bisa mencicilnya bila mau
biar cuma sesisa

desember, 2007











selimut bagi dingin yang lain


selimuti aku
ketika nyanyian hujan menggerus atap peraduan
telah lama dingin
sejak kau menemukan selimut baru
di balik lipatan-lipatan pakaianku
tentu saja, ada sisa bau tubuhku di sana

mata kuyu
sembunyikan kesah kisah yang kita eja di pembaringan
igau letih meningkahi kecibak di sumur
pengantar tidur
serupa dendangan amak
meninanabobokan janinnya
kita kan berkelana sebentar ke dunia lelap

di dendang penghabisan, selimuti aku
sebab aku tak hanya ingin jadi selimut
pada dingin kali ini
seperti selimut-selimut dinginmu yang lain


2007




















terpukau juga, aku



kau tanam cinta di rahim ibu
dalam cumbu yang sebentar
sepasang jemari
hilang
serupa bunglon dipukau warna



2007

3 komentar:

Poetre Koning mengatakan...

yanti, sesekali tengoklah kampungpuisi.blogspot.com

Anonim mengatakan...

hujan itu menemukanku
menemukanku dengan wanita itu
wanita yg begitu tegar tapi kegelisahan,
menghampiri sarjana yang tak jadi

Anonim mengatakan...

gadis manis bertubuh kecil terlihat lugu dg sgala kepolosannya,nmun ibarat gagang dg pedang,darah kan bersimbah kala ia terpisah.ibarat sicabe rawit,butiran bening kan mengoyak segenab jiwa,nmun mnyisakan rindu utk kmbali mnjamahnya.